Di tulisan sebelumnya kita lihat: biaya pensiun sering jauh lebih besar dari yang dibayangkan, sekitar 25 sampai 35 juta per bulan untuk pasangan kelas menengah di Jakarta, seumur hidup, dengan biaya kesehatan yang naik 12-14% tiap tahun.
Lalu muncul pertanyaan yang hampir selalu saya dengar di konsultasi: "Kan saya sudah ada BPJS Ketenagakerjaan dan dana pensiun kantor. Harusnya aman."
Perasaan aman itu ada namanya dalam psikologi keputusan: status quo bias. Kita cenderung menganggap yang sudah ada itu cukup, tanpa pernah benar-benar mengecek angkanya. Jadi mari kita cek.
BPJS Ketenagakerjaan punya dua bagian yang relevan.
Yang pertama, Jaminan Pensiun. Ini memberi penghasilan bulanan seumur hidup, dan itu bagus. Tapi ada satu detail penting: perhitungannya dibatasi plafon upah. Artinya, untuk kamu yang penghasilannya di atas plafon itu, pensiun bulanan yang kamu terima jauh di bawah gaya hidup kamu sekarang. Bukan setengahnya. Sering kali cuma sebagian kecil.
Yang kedua, Jaminan Hari Tua. Ini sifatnya sekali cair, satu lump sum. Kelihatannya besar dan melegakan. Tapi ada dua masalah. Pertama, uang besar yang cair sekaligus itu paling rawan cepat habis, karena otak kita memperlakukan uang besar dadakan beda dari income bulanan. Ini yang disebut mental accounting. Kedua, itu bukan penghasilan seumur hidup. Kamu harus mengelolanya sendiri agar tidak habis di tengah jalan, sementara kebutuhannya jalan terus sampai puluhan tahun ke depan.
Dana pensiun kantor menambah lapisan, dan itu membantu. Tapi ia berhenti saat kamu berhenti bekerja, dan umumnya tidak dirancang untuk menanggung gaya hidup 25 sampai 35 juta per bulan seumur hidup ditambah inflasi medis.
Kalau kita jujur menaruh dua sisi ini berdampingan, kebutuhan seumur hidup di satu sisi, dan yang disediakan BPJS plus dana pensiun kantor di sisi lain, hampir selalu ada jarak. Sering kali jaraknya puluhan juta per bulan.
Kalau di titik ini kamu mulai bertanya-tanya berapa sebenarnya gap kamu sendiri, itu pertanyaan yang tepat. Angkanya bisa kita hitung bareng dalam satu obrolan singkat, tanpa biaya. Kamu tinggal tahu posisi kamu di mana, sebelum memutuskan apa pun. [CTA konsultasi - tengah]
Tapi sebelum ke sana, ada satu hal yang perlu jujur juga: kalau jaraknya sebesar itu, kenapa banyak orang menunda menutupnya?
Jawabannya lagi-lagi bukan soal logika, tapi psikologi. Namanya present bias. Otak kita mengutamakan kenyamanan hari ini dan mendiskon berat konsekuensi puluhan tahun ke depan. Jadi nanti saja kalau penghasilan sudah lebih besar terasa masuk akal, padahal tidak pernah benar-benar terjadi.
Dan menunda itu ada harganya. Karena compounding, semakin telat kamu mulai, semakin berat setoran bulanan yang dibutuhkan untuk mencapai angka yang sama. Mulai di umur 30 dan di umur 40 bisa berbeda sampai dua kali lipat setorannya.
Kabar baiknya, solusinya bukan mengandalkan tekad. Tekad selalu kalah. Solusinya adalah sistem. Salah satu yang paling terbukti namanya Save More Tomorrow: alih-alih memaksakan diri menabung besar sekarang, kamu berkomitmen mengalihkan sebagian dari setiap kenaikan gaji ke dana pensiun, otomatis, sebelum uang itu sempat terpakai. Kamu tidak akan merasa kehilangan, karena kamu hanya tidak merasakan seluruh kenaikannya.
Jadi ini bukan soal BPJS itu buruk. BPJS dan dana pensiun kantor adalah fondasi yang bagus. Yang perlu kamu tahu hanya satu hal: fondasi itu menutup berapa persen dari kebutuhan kamu, dan berapa sisanya yang harus kamu siapkan sendiri.
Angka itu berbeda untuk setiap orang, tergantung gaya hidup yang kamu inginkan saat pensiun dan apa yang sudah kamu punya hari ini. Cara paling cepat untuk tahu gap kamu sendiri adalah menghitungnya bersama, dalam satu obrolan singkat. [CTA konsultasi - bawah]
