Ini keluhan yang saya dengar dari pasangan yang penghasilannya justru sedang bagus:
"Gaji kita berdua naik terus. Tapi tabungan segitu-segitu aja. Kita nggak tahu larinya ke mana."
Tidak ada satu pengeluaran besar yang bisa ditunjuk. Itu yang bikin bingung.
Kenapa kenaikan gaji bisa tidak terasa
Salah satu pola yang saya lihat pada pasangan yang saya dampingi: restoran yang dulu terasa istimewa, setelah beberapa kali dikunjungi, jadi terasa biasa. Bukan restorannya yang berubah. Titik acuannya yang naik.
Ini yang membuat kalimat "nanti kalau gaji naik, pasti bisa nabung" bisa saja tidak pernah terwujud. Gajinya naik, standarnya ikut naik, dan selisihnya habis sebelum sempat disisihkan.
Kenapa pada pasangan efeknya bisa lebih terasa
Di rumah tangga dengan dua penghasilan, ada satu hal yang bisa saja luput dari perhatian.
Ketika penghasilan naik, bisa saja dua-duanya merasa berhak menikmati. Dan bisa saja dua-duanya menaikkan standar di kategori yang berbeda, masing-masing tanpa sadar yang satu lagi juga melakukan hal serupa.
Satu menaikkan standar makan di luar. Satu menaikkan standar liburan. Dua-duanya merasa cuma menaikkan satu hal.
Bisa saja tidak ada yang merasa boros, karena masing-masing hanya melihat kenaikannya sendiri. Yang naik dua kali cuma kelihatan di rekening.
Kenapa sekadar mencatat belum tentu menyelesaikan
Dalam pengalaman saya, sebagian pasangan mencoba mencatat pengeluaran, lalu berhenti setelah beberapa minggu berjalan.
Mencatat manual berarti tindakan itu perlu diulang setiap kali ada pengeluaran, dan perlu diingat terus. Transfer otomatis berbeda: begitu disepakati sekali, jumlah yang disetujui langsung berpindah sendiri di tanggal yang ditentukan, tanpa perlu diingat ulang tiap bulan.
Aturan pembagian kenaikan
Salah satu cara yang bisa dicoba: sepakati apa yang terjadi pada kenaikan sebelum kenaikannya datang.
Misalnya, sebagai ilustrasi, setiap kenaikan penghasilan dibagi dua: setengah boleh dipakai menaikkan standar hidup, setengah lagi langsung dipindahkan ke tabungan atau investasi, otomatis, di tanggal gajian. Angka 50/50 di sini cuma contoh awal, bukan patokan baku. Kamu dan pasangan bisa menyesuaikan porsinya sesuai kondisi masing-masing, misalnya 30/70 atau 70/30, tergantung target dan kenyamanan berdua.
Soal bagian yang disisihkan itu mau disimpan sebagai tabungan atau dialihkan ke investasi, itu juga bukan pilihan yang sama untuk semua orang. Tergantung tujuannya apa, jangka waktunya berapa lama, seberapa cepat dananya perlu bisa dicairkan, dan seberapa besar kamu dan pasangan nyaman dengan naik-turunnya nilai investasi.
Kenapa cara membagi di awal ini pantas dipertimbangkan:
Diputuskan saat belum ada uangnya. Kesepakatan dibuat sebelum penghasilan itu masuk rekening. Porsi yang naik dan porsi yang disisihkan sudah ditentukan lebih dulu, sebelum uangnya ada.
Tidak melarang menikmati. Setengahnya, atau porsi berapa pun yang disepakati, tetap boleh dipakai untuk menikmati kenaikan itu. Porsi ini dipilih secara sadar, bukan sisa yang kebetulan belum terpakai.
Berjalan otomatis. Diputuskan sekali, tidak perlu diingat tiap bulan.
Yang tidak menyelesaikan
Saling menghitung siapa yang lebih banyak menaikkan standar. Ini bisa saja berakhir jadi daftar kesalahan.
Dan satu hal lagi yang perlu diluruskan: kebiasaan menyebut pengeluaran satu pihak sebagai investasi dan pengeluaran pihak lain sebagai boros. Barang elektronik dan tas sama-sama pengeluaran, cuma beda kategori. Membedakan penyebutannya bisa saja bikin salah satu pihak merasa selalu jadi tersangka.
Bagian yang paling sulit
Semua yang saya tulis di tiga tulisan terakhir, memahami perbedaan cara pandang, membuat ruang pribadi, mengatur pembagian kenaikan, semuanya butuh satu hal yang sama.
Kamu dan pasangan harus bisa duduk membahasnya tanpa berakhir ribut.
Bagian ini yang saya bahas di tulisan berikutnya.
Tulisan berikutnya di rangkaian ini: Money Date: Struktur Dua Jam yang Bikin Tidak Ribut
