Setiap beberapa tahun selalu ada satu hal yang "semua orang lagi masuk". Tahun 2017 properti. 2021 crypto. 2022 robot trading. Lalu saham yang lagi ramai, koin yang lagi viral, aset yang lagi dibicarakan di mana-mana. Dan polanya hampir selalu sama: kita ikut masuk justru pas harganya sudah di puncak, lalu nyangkut waktu turun.
Kenapa kita selalu telat dan selalu di posisi yang salah? Jawabannya ada di dua kecenderungan otak.
Pertama, herd behavior. Ekonom Abhijit Banerjee (1992) menjelaskan lewat konsep information cascade: waktu kita lihat banyak orang melakukan sesuatu, kita otomatis menganggap mereka tahu sesuatu yang kita tidak tahu, lalu ikut tanpa mengecek sendiri. Di budaya kita yang kolektif, dorongan "masa saya sendiri yang tidak ikut" ini makin kuat. Kedua, recency bias, temuan Tversky dan Kahneman (1973): otak kita memberi bobot berlebih pada apa yang baru saja terjadi. Waktu suatu aset naik terus beberapa bulan, kita merasa dia akan terus naik, padahal justru itu tanda kita sudah telat.
Ada data yang menyakitkan soal ini. Studi Morningstar berjudul "Mind the Gap" menemukan bahwa rata-rata investor memperoleh hasil 3 sampai 4 persen per tahun lebih rendah dari reksa dana yang mereka pegang sendiri. Penyebabnya bukan produknya, tapi perilakunya: beli waktu ramai (harga tinggi), jual waktu panik (harga rendah). Selisih ini punya nama, behavior gap, dan dia terus muncul di berbagai kelas aset selama puluhan tahun.
Yang paling perlu kamu sadari: kalau sebuah "peluang" sudah sampai ke kamu lewat grup WhatsApp, konten viral, atau obrolan lima orang non-praktisi, kamu bukan orang yang masuk lebih awal. Kemungkinan besar kamu justru jadi tempat keluar bagi yang sudah masuk duluan.
Menahan diri saat semua orang euforia itu tidak enak, tapi di situlah letak keunggulannya. Punya rencana alokasi sendiri, lalu tempel di situ apa pun yang sedang ramai, jauh lebih berharga daripada mengejar apa pun yang lagi naik. Disiplin membosankan memang, tapi dia yang menutup behavior gap.
