← Blog
Artikel Kami · Personal Finance

4 Cara Orang Memandang Uang, dan Kenapa Kamu Sering Beda Sama Pasangan

Saya sering ketemu pasangan dengan pola yang sama. Suami bangun bisnis dari nol, sekarang omzetnya belasan miliar setahun. Istri di rumah, pegang urusan anak dan rumah tangga.

Dan mereka masih ribut soal uang. Bukan karena kurang, tapi karena dua duanya punya definisi berbeda soal apa arti uang.

Kenapa yang sudah punya tetap merasa kurang

Ada empat pola cara orang memandang uang. Psikolog Brad Klontz meneliti ini, dan intinya: keyakinan soal uang terbentuk sejak kecil, jauh sebelum orang punya penghasilan sendiri.

Uang itu jawabannya. Ini yang paling sering saya lihat di pemilik usaha. Keyakinannya, hampir semua masalah beres kalau angkanya cukup besar.

Masalahnya, "cukup" tidak pernah punya garis akhir. Omzet naik dari 5 miliar ke 15 miliar setahun, tapi rasa amannya tidak ikut naik. Yang naik cuma targetnya.

Ini juga yang bikin kalimat "nanti kalau bisnisnya udah stabil" tidak pernah benar benar tiba.

Uang itu ukuran diri. Nilai diri melekat pada apa yang terlihat. Di lingkaran yang mobilnya Alphard dan anaknya di sekolah internasional, tekanannya nyata meskipun tidak pernah diucapkan.

Pola ini yang paling sulit mengakui ada yang tidak beres, karena mengaku tidak sanggup terasa seperti mengaku gagal.

Uang itu urusan pribadi. Cenderung tidak membuka, termasuk ke pasangan. Bukan karena ada yang disembunyikan, tapi karena membicarakan uang terasa tidak pantas.

Ini yang menjelaskan kenapa banyak istri tidak pernah bertanya. Bukan tidak peduli, tapi merasa bukan tempatnya bertanya.

Uang itu sumber masalah. Tumbuh melihat uang merusak keluarga. Cenderung menghindar dari topiknya sama sekali.

Yang terjadi kalau dua pola ini ketemu

Bayangkan suami dengan pola "uang itu jawabannya" menikah dengan istri berpola "uang itu urusan pribadi".

Suami sibuk membesarkan angka. Istri tidak pernah bertanya karena merasa tidak sopan. Lima belas tahun menikah, istri tidak tahu aset keluarga ada berapa, polis apa saja yang dimiliki, dan uangnya di mana.

Bukan karena disembunyikan. Karena tidak pernah ada momen untuk membicarakannya.

Dan itu baru jadi masalah besar di satu skenario: kalau suaminya tiba tiba tidak ada.

Yang bikin ini lebih berisiko buat pemilik usaha

Karyawan punya HRD, punya slip gaji, punya BPJS yang tercatat rapi. Kalau terjadi sesuatu, ada jejak yang bisa ditelusuri keluarganya.

Pemilik usaha tidak punya itu. Aset atas nama PT, rekening bercampur antara pribadi dan usaha, rumah kadang jadi jaminan pinjaman. Yang tahu peta lengkapnya cuma satu orang.

Istri yang tidak dilibatkan bukan cuma tidak tahu angkanya. Dia tidak tahu harus mulai dari mana.

Cara mulai membicarakannya

Jangan buka dengan angka. Buka dengan cerita.

Tiga pertanyaan ini biasanya cukup membuka, dan dijawab dua duanya bergantian:

Ingatan pertama kamu soal uang apa? Bukan angka. Kejadian.

Di rumah kamu dulu, siapa yang pegang uang, dan gimana rasanya di rumah waktu bahas itu?

Apa satu hal soal uang yang kamu bertekad tidak mau ulangi dari orang tua kamu?

Kenapa mulai dari cerita: begitu dibuka dengan angka, otak langsung masuk mode menilai. Ada yang benar, ada yang salah. Begitu dibuka dengan cerita, tidak ada yang bisa disalahkan.

Setelah dua duanya paham asal usul pola masing masing, membahas angka jadi jauh lebih mudah.


Tulisan berikutnya di rangkaian ini: Rumah Tangga Kamu Butuh 1 Angka Tetap. Ini Cara Nentuinnya

Konsultasi Asuransi

Ingin membahas situasimu lebih lanjut?

Pelajari lebih dulu cara Konsultasi Asuransi berjalan. First Call adalah langkah awal untuk mendengar situasimu dan melihat apakah layanan ini relevan sebelum masuk ke sesi berikutnya.
Pelajari Konsultasi Asuransi